Senin, 19 April 2010

MY Favorit In politik


Gusdur, Pahlawan Nasional dan Amnesia Sejarah

Saya tidak ikut latah meneriakkan ide mengangkat Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional, baik itu melalui berbagai group di Facebook maupun media sosial lainnya. Bukan saya menyangsikan kepahlawanan Gus Dur, bukan pula saya menolak pemberian gelar Pahlawan pada Gusdur, melainkan lebih karena kita mungkin tidak akan mendapat manfaat yang signifikan dari pengangkatan Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional. Mengapa ?

Dulu waktu kita masih SD, kita mungkin ingat dalam lomba Pramuka ‘Pesta Siaga’ dan dalam pelajaran PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) kita diwajibkan untuk menghafal wajah-wajah para pahlawan dan sekelumit tentang sejarah perlawanannya terhadap penjajah. Tapi memori yang terekam dalam ingatan kita paling banter ya hanya itu. Yang pake sorban putih berbaju putih namanya Pangeran Diponegoro, yang pake ikat kepala, bertelanjang dada, menyandang parang di samping itu namanya Pattimura, lalu yang perempuan bergelung itu namanya Cut Nyak Dien, pahlwan revolusi yang rambutnya keriting tebal itu namanya Karel Satsuit Tubun, dll. Bahkan memori ini seringkali mengalami konflik atau korsleting karena wajah-wajah yang serupa. Seorang teman saya ketika melewati perlimaan Karangnangka, Wates, Kulonprogo, Yogyakarta, selalu menganggap patung perempuan berkuda di perlimaan itu sebagai Cut Nyak Dien, padahal sudah jelas di situ tertulis namanya ‘Nyi Ageng Serang’. :)

Nampaknya memang kita punya sistem pendidikan yang masih sangat mengagungkan kemampuan menghafal dan bukan kemampuan berpikir secara utuh. Kita tahu bahwa menghafal hanyalah sebagian kecil, sangat kecil dari kemampuan berpikir. Menghafal itu hanya seperti memanggil memori yang sudah tersimpan dalam harddisk kita yaitu otak, tanpa melewati proses analisa yang tentu saja membutuhkan sumberdaya lebih banyak. Berpikir adalah keterampilan yang melelahkan yang jarang diajarkan dalam sistem pendidikan kita.

Sistem yang demikian merasuk pula dalam sistem pembelajaran sejarah di bangku sekolah kita dulu. Otak kita sebagai murid dijejalkan berbagai macam hafalan sejarah mulai dari wajah pahlawan, nama-nama perang, angka-angka tahun, dan berbagai macam hafalan lainnya yang menurut saya tidak penting. Kita tidak diajari kemampuan untuk mempelajari sejarah dengan menganalisanya dan mencari apa pelajaran yang bisa kita ambil dari pelajaran sejarah itu, baik itu pelajaran yang positif maupun pelajaran yang negatif.

Jujur saja, saya sendiri tidak tahu apa saja yang diperbuat oleh para Pahlawan Nasional kita yang jumlahnya puluhan itu. Saya hanya ingat segelintir pelajaran dari cerita kepahlawanan Pangeran Diponegoro yaitu bahwa seringkali kita terlalu polos dan mudah diakali oleh musuh kita sehingga kita kadang terjebak pada tawaran damai yang menjadi kedok jebakan maut. Juga saya ingat bahwa kita dulu adalah bangsa yang bebas dari sekat2 agama sehingga kita mau bergandengtangan bersama untuk mencapai satu tujuan melepaskan diri dari penjajahan. Namun pelajaran-pelajaran itu bukanlah pelajaran yang saya dapat dari pendidikan di sekolah. Pelajaran-pelajaran itu saya dapat dari hasil interaksi saya dengan berbagai macam orang yang mengajari saya kemampuan berpikir dan menganalisa. Kemampuan berpikir itu lalu saya terapkan pada memori otak saya yang tersimpan sejak masa SD dulu. Artinya, saya sebenarnya tidak mendapat manfaat yang signifikan dari pelajaran sejarah yang saya terima di masa sekolah dulu.

Nah pemberian gelar Pahlawan Nasional untuk Gus Dur mungkin memang akan memberi celah bagi para orang baik dalam sistem pendidikan kita untuk mengajarkan tentang pluralisme, keberagaman yang seharusnya membuat kita diperkaya. Kita tahu, Gus Dur adalah salah satu tokoh yang vokal mendukung pluralisme. Gus Dur membuka pintu bagi budaya Tionghoa untuk menjadi bagian dari bangsa ini. Gus Dur menjadi jembatan yang menghubungkan banyak titik-titik panas yang seringkali bergesekan. Gus Dur adalah pahlawan pluralitas bangsa. Pengangkatan Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional pasti membuat namanya tercantum dalam buku-buku pelajaran sejarah untuk anak sekolah. Tapi apalah artinya kalau ternyata kita hanya punya sistem pendidikan yang mengajari bahwa Gus Dur adalah Bapak Pluralisme Bangsa tapi tidak mengajari anak-anak kita untuk belajar menghargai perbedaan-perbedaan kecil dengan teman-temannya di sekolah ? Apa artinya ketika dalam pelajaran sejarah anak-anak kita diajari tentang pluralitas yang diusung Gus Dur namun dalam pelajaran agama anak-anak kita diajari bahwa orang yang berbeda agama adalah orang-orang kafir yang harus kita musuhi ?